Sudahkan Menjadi Hamba Allah Yang Bersyukur?


Sesungguhnya syukurnya seorang hamba atas nikmat Allah tidaklah akan menjadi sempurna kecuali dengan merealisasikan lima perkara:

Pertama: Tunduk kepada Allah. Al-Baidhawi رحمه الله berkata, "Inti dari mensyukuri nikmat: menggunakannya untuk tujuan penciptaannya, dan tunduk kepada pemberinya." (Tafsir Al-Baidhawi IV/93).

Kedua: Mencintai Allah سبحانه .

Ketiga: Mengetahui dan mengakui nikmat tersebut adalah dari Allah.

Keempat: Memuji Allah atas nikmat tersebut.

Kelima: Tidak menggunakan nikmat tersebut untuk  melakukan hal yang Allah membencinya, bahkan menggunakannya dalam mengamalkan apa yang Allah ridhai. Muhammad bin Ka'ab رحمه الله berkata, "Syukur adalah takwa kepada Allah dan beramal dalam rangka menta'ati-Nya." (Tafsir Ath-Thabari X/354).

Ibnul Qayyim رحمه الله berkata, "Pokok syukur adalah mengakui nikmat dari Pemberi Nikmat (Allah) disertai ketundukan , kerendahan diri , dan kecintaan kepada-Nya.

Maka, barang siapa yang tidak mengetahui nikmat, bahkan tidak menyadarinya, dia tidak akan mensyukurinya.

Dan barang siapa yang mengetahui nikmat tapi tidak mengetahui Pemberi Nikmat, dia juga tidak akan mensyukurinya.

Dan barang siapa yang mengetahui nikmat dan Pemberinya tetapi mengingkarinya seperti orang yang mengingkari nikmat yang diberikan kepadanya, maka dia telah mengkufurinya.

Dan barang siapa yang mengetahui nikmat dan Pemberinya, serta mengakuinya dan tidak mengingkarinya, tetapi tidak tunduk kepada-Nya, tidak mencintai-Nya, dan tidak ridha dengan-Nya dan dari-Nya, dia juga tidak mensyukurinya.

Adapun barang siapa yang mengetahui nikmat, mengetahui Pemberinya, mengakuinya, tunduk kepada Pemberi nikmat tersebut, mencintai-Nya, rida dengan-Nya dan dari-Nya, serta menggunakannya (nikmat itu) untuk hal-hal yang dicintai-Nya dan dalam ketaatan kepada-Nya, maka inilah dia yang orang bersyukur atas nikmat." (Thariiqul Hijratain I/168).

📎 A'maalul Quluub hlm. 296-297, karya Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, cet. Majmu'ah Zaad.