Kunci Surga Ada Syarat-Syaratnya

 


Para salafushshalih s telah mengisyaratkan akan pentingnya memperhatikan syarat-syarat laa ilaaha illallah, kewajiban berpegang teguh padanya, dan bahwasanya laa ilaaha illallah tidak diterima kecuali dengan memenuhi syarat-syaratnya. Di antaranya adalah apa yang telah datang riwayat dari Al-Hasan Al-Bashri r , bahwasanya dikatakan kepada beliau, “Sesungguhnya orang-orang mengatakan bahwa barangsiapa yang mengucapkan laa ilaaha illallah pasti ia masuk surga.” Maka kemudian beliau r berkata,

 

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَأَدَّى حَقَّهَا وَفَرْضَهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaaha illallah, lalu menunaikan hak dan melaksanakan kewajibannya, maka ia pasti akan masuk surga.”

Al Hasan r pernah berkata kepada Al-Farazdaq, ketika ia menguburkan istrinya,

 

مَا أَعْدَدْتَ لِهَٰذَا الْيَوْمِ؟

 

“Apa yang telah kamu persiapkan untuk hari ini (hari kematianmu kelak)?” 

Ia menjawab,

 

شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ مُنْذُ سَبْعِينَ سَنَةً

 

“Syahadat laa ilaaha illallah sejak 70 tahun yang lalu.”

Al-Hasan r berkata,

 

نِعْمَ الْعُدَّةُ لَكِنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ شُرُوطًا؛ فَإِيَّاكَ وَقَذْفَ الْمُحْصَنَاتِ

“Itulah sebaik-baik bekal, namun laa ilaaha illallah memiliki syarat-syarat. Maka hendaknya engkau jauhi perbuatan menuduh zina wanita yang baik-baik.”

Wahab bin Munabbih r pernah berkata ketika seseorang bertanya kepadanya, “Bukankah kunci surga itu adalah laa ilaaha illallah?”, ia menjawab,

 

بَلَى ؛ وَلَكِنْ مَا مِنْ مِفْتَاحٍ إِلَّا لَهُ أَسْنَانٌ ، فَإِنْ أَتَيْتَ بِمِفْتَاحٍ لَهُ أَسْنَانٌ فُتِحَ لَكَ ، وَإِلَّا لَمْ يُفْتَحْ لَكَ

“Iya benar, akan setiap kunci itu pasti ada giginya. Jika engkau datang membawa kunci yang memiliki gigi, maka akan terbuka, namun jika tidak ada giginya, maka tidak akan terbuka untukmu.”

Wahab bin Munabbih r mengisyaratkan yang dimaksud dengan gigi pada kunci kepada syarat-syarat laa ilaaha illallah.[1]

       Dapatkan penjelasan syarat-syarat laa ilaaha illallah dalam buku “Sudahkah Kita Memahami Kalimat Syahadat” Penulis: Abu Fathimah Ibrahim bin Hadi Az-Zuhandi.



[1] Kalimatut Tauhiid Laa ilaaha illallah hlm. 25-27 karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.